Wednesday, January 3, 2007

MY SWEET GIFT


Ada beberapa orang yang sangat menonjol keeksistensiannya dalam hidupku. Orang tuaku pasti, meski sekarang ayahku sudah tidak dapat bercengkerama lagi denganku karena beliau harus menghadap Sang Empunya Dunia. Kakak perempuanku, dialah orang selalu menamparku dengan kenyataan yang akan kulalui dan itu membuatku lebih berpikir untuk menatap masa depanku. Tetapi dibalik itu semua ada seorang gadis yang tanpa kusadari telah mengisi kehampaanku.

Aku ingat saat perjumpaan pertama kami, saat itu kemeja putih berlambang OSIS di kantung dan celana pendek biru yang sengaja kubuat lebih panjang melampaui lututku masih melekat erat di tubuhku. Kata teman-temanku, aku orang dengan kromosom yang berlebih, mungkin karena aku tipe orang yang ngga bisa diam. Saat itupun aku sudah terlibat aktif dalam organisasi Putra Altar Putri Sakristi. Organisasi tersebut merupakan organisasi Gereja dibawah asuhan Seksi Liturgi dan kami bertugas untuk melayani Romo pada saat mempersembahkan Perayaan Ekaristi Kudus. Tetapi tidak seperti yang orang-orang bayangkan pada umumnya bahwa jika seseorang aktif dalam kegiatan Gerejani maka pastilah orang itu mendekati suci. Meski aku aktif dalam organisasi itu, tetap saja duniaku diluar begitu kelam dan aku terhanyut didalamnya. Aku adalah mantan pemakai, meski ini merupakan aib bagi beberapa orang tapi aku tak segan mengungkapkannya. Ironisnya, dalam lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin yang begitu ketat dan bernafaskan keagamaan itu, aku belajar melalui segala sesuatu bukan dengan akal sehat. Bolos sekolah, perkelahian antar pelajar, merokok, mengkonsumsi drugs sudah menjadi bagian yang susah terpisahkan di diriku. Teringatku akan kasus terakhir dimana kejadian itu hampir merenggut ijazah SMPku, saat itu Bu Eri (Guru Bimbingan Konselingku) berkata, “Jujur saya sampe lupa kasus-kasusmu karena saking banyaknya, mungkin seharusnya kamu sudah saya keluarkan sebelum kasus ini.” Tetapi ditengah kebusukanku saat itu, aku melihat sesosok gadis yang sempat menggetarkan hatiku.

Saat itu malam minggu dimana aku harus menghadiri pertemuan rutin organisasiku tadi. Kebetulan saat itu kami membuka pendaftaran baru bagi calon anggota. Terdiamku ditengah keramaian teman-temanku, tiba-tiba senyum manis dari bibir mungil itu keluar hanya sekedar untuk menyapa. Rontok hatiku waktu itu. Dan dengan cepatnya aku memutuskan untuk coba menjalin suatu hubungan dengannya. Tapi ternyata maksudku itu ditolak. Ya sudahlah aku coba menjalin hubungan dengan keturunan hawa lainnya. Telah banyak hubungan yang kulalui meskipun itu dari teman-teman sekolahku. Sampai pada suatu ketika aku mulai merasa dekat dengannya. Aku heran mengapa dia bisa begitu perhatian padaku. Dia berusaha untuk membangun aku ditengah-tengah kehancuranku. Tapi pada masa itu aku sama sekali tidak menghiraukan segala kicauannya, karena saat itu aku asyik dengan dunia hitamku.

Tak lama berselang diapun mulai menunjukkan kasihnya padaku meski aku kesadaranku melayang-layang entah kemana. Pada awalnya karena aku sedang tidak berhubungan dengan siapa-siapa, jadi kuputuskanlah untuk berhubungan dengannya. Tak seperti yang kusangka, begitu hebatnya dia mengekang setiap derap langkahku waktu itu. Dia melarangku untuk melakukan hal-hal hitam yang kulakukan waktu itu. Siapa dia? Tidak ada yang berhak mengatur hidupku selain aku. Itulah yang menjadi prinsipku dan yang menghatarku untuk melakukan pemutusan hubungan dengannya. Semua kejadian pada masaku itu berlalu dengan putus-sambungnya aku dengannya. Dengan alasan yang mendasar dalam hati tadi aku coba untuk berulang kali menjalin hubungan dengannya. Baru kusadari sekarang akan kasihnya kepadaku. Dia siap menerimaku apa adanya diriku meski aku telah benar-benar membuangnya dalah hidupku.

Seiring mengalirnya usiaku. Kejadian yang sama antara aku dengan dia terus berlangsung. Sampai pada saat dimana aku harus menyadari bahwa usiaku terus menggerogoti aku. Maka kuputuskanlah untuk mulai meninggalkan kehidupan kelamku. Sangatlah tidak mudah, tapi Puji Tuhan aku bisa melampauinya. Dan tidak terasa pula dia selalu mengiringi langkahku menuju aku yang sekarang. 3 April 2006 pukul 00.00 WIB (hari ulang tahunnya) telah menjadi saksi bisu dimana aku menyatakan keinginanku untuk menjalin hubungan dengannya untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi dia menerimaku. Disanalah aku menemukan arti cinta yang sesungguhnya.

Aku mulai belajar untuk mencintai dan dicintai. Aku memulai kehidupan baruku. Aku pernah berkata padanya bahwa dialah bensin untuk motorku yang ngga pernah naik harganya dan benar adanya. Berjalanku dengannya melewati kerikil-kerikil kehidupan. Sampai pada saat timbul suatu permasalahan dimana aku dengan dia yang tahu. Meski keputusan itu dibuat berdasarkan keputusan kami, tetapi tetap saja aku merasa kehilangan aku. Hari-hariku mulai terasa hampa kembali, tapi aku coba untuk tidak mengulangi kesalahanku yang lama. Tidak mudah rasanya bangun setiap pagi dengan sadar bahwa kita bukan lagi kita melainkan aku aku dan dia dia. Inilah hubunganku yang kubangun dengan hati, itu semua karena ketulusannya membangun aku. Aku mati rasa tapi disatu sisi rasa takut menghantuiku untuk menjalin hubungan. Karena aku sangat merasakan perihnya. Aku merasa tak pantas untuk sekedar menjabat tanganku dengannya. She is so perfect to me.

Rasa sayangku dengannya tak akan pernah berubah sampai kapanpun meski aku takut untuk memperjuangkan hubunganku dengannya. Jalan yang kuambil sekarang mungkin memang sedikit menyakiti hatinya, tetapi inilah usahaku untuk menipu diriku sendiri. Aku tak tahu apakah jalan yang kutempuh salah, tetapi itu semua dapat meringankan seluruh bebanku meski tak bisa melupakannya sampai kapanpun.

Yang kulakukan sekarang hanyalah membangun diriku dari serpihan-serpihan kehancuran yang telah kunikmati. Berharapku pada suatu saat dimana aku adalah aku meski aku membohongi diriku.

Cupcupmuahmuah.

Endoenk

No comments: