Sedikit cerita dari saya mengenai video tadi,
Di ruang gelap dan kecil dengan semacam panggung didalamnya yang dilengkapi seutas tambang, berdiri diatasnya sesosok pria tua dengan didampingi dua orang bertopeng hitam yang sedikit lebih tinggi dari badan pria tua tadi pada kedua belah sisinya. Pria tua itu Saddam Husein. Sebenarnya dari pertama video itu mulai, doa-doa pun sudah dikumandangkan, tetapi sayangnya suara doa tadi tercemar dengan makian segelintir orang. “Jahanam!?” kata-kata itu sempat terdengar diantara cacian tersebut. Usai doa-doa dikumandangkan untuk mengiringi maut anak manusia, kini giliran Saddam mengucap kata-kata terakhirnya. Dia lebih memilih untuk mengecap doa yang disebut syahadat itu, meski dalam bahasa Arab dan tambang sudah melingkari lehernya. Belum selesai doa dari mulut Saddam, tuas yang terhubung dengan dasar lantai panggung yang dibuat untuk dapat terbuka dan tertutup sesuai dengan arah tuasnya itu pun terbuka. Keributan pun serasa menggelegar. Spontan si pemilik handphone ini berlari keatas panggung untuk melihat jenazah sang terpidana tadi dan benar didapatinya tubuh Saddam tergolek lemas tanpa nafas yang keluar dari tubuhnya. Hanya beberapa detik saja untuk menghilangkan hidup anak manusia itu, mungkin karena tali itu menarik kuat sehingga mengenai salah satu saraf yang vital dari banyak saraf yang tertumpuk di leher orang itu.
Pada kejadian ini intinya MAUT TELAH MENANG ATAS KEHIDUPAN.
Seperti yang telah aku ungkapkan tadi, aku hanya bisa termenung menyaksikan kejadian itu. Tetapi dalam permenungan itu, hati kecilku berontak. Bagaimana keadilan dapat dicapai dengan cara ketidak adilan?! Fine, mungkin dia sudah banyak menghilangkan nyawa manusia, tetapi apakah jalan keadilan satu-satunya hanya dengan melenyapkan kembali kehidupan manusia itu? Meski aku hanya bisa termenung, setidaknya teman-teman yang berkecimpung dalam ruang kerja mungilku itu sepaham denganku.
Teringat kembali akan pekerjaanku, aku pun harus membawa suara hatiku itu jauh diawang-awang untuk sementara. Dan tak terasa Adzan Subuh pun sudah terdengar di telinga kami, sampai pada akhirnya kami harus pulang ke kehidupan kami di rumah karena pekerjaan kami telah usai.
Tapi dibalik itu semua, aku membayangkan jika sewaktu-waktu leherku yang dilingkari tali itu. Pernahkah terpikir olehmu?
Best Regard,
Endoenk




