Seperti hari Jumat biasanya, aku selalu menyibukkan diriku ditengah lautan kertas tempat kerjaku. Hari itu tak banyak teman-temanku yang datang, hanya aku dan temanku yang mengklaim dirinya sebagai Pimpinan Umum saja. Tapi namanya kerja sosial ya tak apalah. Tanpa mengenal detak waktu, tak terasa sang malam pun menghampiriku dan 2 buah komputer yang dengan optical mouse yang menyala-nyala pada sekelilingnya. Aku pun larut dalam kata-kata yang kurangkai tuk menambal Mingguan yang kubuat. Detak-detak jam dinding kami pun seolah menemani malam kami. Tak lama berselang, sapaan hangat pun terlontar melalui bibir merah IT kami, maklumlah karena pria yang selalu bersahabat dengan software dan hardware itu tidak merokok. “Halo semua” dengan kalimat pertama yang diucapkan teman kami itu pun kepenatan kami seakan sirna, sedikit hiperbola memang. Cukup beberapa menit saja kami terhanyut, karena bising komputer di hadapanku itu pun menandakan bahwa ia ingin kembali di jamah oleh tangan kasarku. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk selalu berdiskusi tentang apa saja di dalam ruang kerja kami yang mungil. Kata demi kata dari mulutku keluar hanya untuk sekedar menanggapi perbincangan, tapi tanganku pun mengharuskanku untuk terus menekan tombol-tombol yang ada pada keyboard. Dalam sela-sela perbincangan kami yang ngalor ngidul, pria yang kurahasiakan namanya demi keselamatanku ini pun merogoh kantung kemejanya untuk mengambil sebuah benda kecil dengan daya tampung 1 giga byte yang lazim disebut Flash Disk. Dia memasukkan benda itu dalam komputerku, sontak timbul tampilan baru pada layarku karena dalam flashdisk-nya dilengkapi fasilitas AutoPlay. Meski pekerjaanku sedikit terganggu, tapi aku mengambil segi positifnya dimana aku bisa beristirahat sejenak untuk sekedar meregangkan otot-ototku yang mulai tegang. “Mau liat ga nih lo pada, gua baru dikirimin video eksekusi mati Saddam.” Sebenarnya kata-kata itu terbuang percuma karena monitor komputer kami berada tepat didepan pandangan kami, jadi mau tidak mau kami menontonnya, meskipun ada cara lain untuk menghindar dengan keluar ruangan. Karena memang terdapat banyak sekali data di komputer ditambah file yang akan dibuka merupakan file dengan extension 3gp, jadi sedikit lama memang untuk membuka cuplikan video yang ditransfer dari handphone itu ke komputer kami. Setelah file berhasil terbuka; saya, teman IT saya dan teman Pimpinan Umum saya pun menyaksikan detik-detik dimana seorang anak manusia harus berhadapan dengan maut yang tersamar dalam seutas tambang yang tergantung kokoh itu. “Gila!” belum selesai kata itu terucap dari teman saya, “Parah banget!” teman saya yang lain menyanggahnya dan saya pun hanya termenung menyaksikannya.
Sedikit cerita dari saya mengenai video tadi,
Di ruang gelap dan kecil dengan semacam panggung didalamnya yang dilengkapi seutas tambang, berdiri diatasnya sesosok pria tua dengan didampingi dua orang bertopeng hitam yang sedikit lebih tinggi dari badan pria tua tadi pada kedua belah sisinya. Pria tua itu Saddam Husein. Sebenarnya dari pertama video itu mulai, doa-doa pun sudah dikumandangkan, tetapi sayangnya suara doa tadi tercemar dengan makian segelintir orang. “Jahanam!?” kata-kata itu sempat terdengar diantara cacian tersebut. Usai doa-doa dikumandangkan untuk mengiringi maut anak manusia, kini giliran Saddam mengucap kata-kata terakhirnya. Dia lebih memilih untuk mengecap doa yang disebut syahadat itu, meski dalam bahasa Arab dan tambang sudah melingkari lehernya. Belum selesai doa dari mulut Saddam, tuas yang terhubung dengan dasar lantai panggung yang dibuat untuk dapat terbuka dan tertutup sesuai dengan arah tuasnya itu pun terbuka. Keributan pun serasa menggelegar. Spontan si pemilik handphone ini berlari keatas panggung untuk melihat jenazah sang terpidana tadi dan benar didapatinya tubuh Saddam tergolek lemas tanpa nafas yang keluar dari tubuhnya. Hanya beberapa detik saja untuk menghilangkan hidup anak manusia itu, mungkin karena tali itu menarik kuat sehingga mengenai salah satu saraf yang vital dari banyak saraf yang tertumpuk di leher orang itu.
Pada kejadian ini intinya MAUT TELAH MENANG ATAS KEHIDUPAN.
Seperti yang telah aku ungkapkan tadi, aku hanya bisa termenung menyaksikan kejadian itu. Tetapi dalam permenungan itu, hati kecilku berontak. Bagaimana keadilan dapat dicapai dengan cara ketidak adilan?! Fine, mungkin dia sudah banyak menghilangkan nyawa manusia, tetapi apakah jalan keadilan satu-satunya hanya dengan melenyapkan kembali kehidupan manusia itu? Meski aku hanya bisa termenung, setidaknya teman-teman yang berkecimpung dalam ruang kerja mungilku itu sepaham denganku.
Teringat kembali akan pekerjaanku, aku pun harus membawa suara hatiku itu jauh diawang-awang untuk sementara. Dan tak terasa Adzan Subuh pun sudah terdengar di telinga kami, sampai pada akhirnya kami harus pulang ke kehidupan kami di rumah karena pekerjaan kami telah usai.
Tapi dibalik itu semua, aku membayangkan jika sewaktu-waktu leherku yang dilingkari tali itu. Pernahkah terpikir olehmu?
Best Regard,
Endoenk
4 comments:
...please where can I buy a unicorn?
Quiten todo que al tema no se refiere. http://nuevascarreras.com/tag/comprar-cialis/ cialis 5 mg pvp Credo che lei abbia sbagliato. Io propongo di discuterne. Scrivere a me in PM. cialis 20 mg prospecto mwsqgjztfn [url=http://www.mister-wong.es/user/COMPRARCIALIS/comprar-viagra/]cialis online[/url]
No sois derecho. Soy seguro. Discutiremos. Escriban en PM, se comunicaremos. http://nuevascarreras.com/category/cialis-generico/ cialis 20 mg Io non sono chiare. [url=http://nuevascarreras.com/tag/cialis-online/ ]cialis 20 mg lilly [/url]
waymouth http://www.webjam.com/popcornmachines televisions http://www.webjam.com/garagedooropeners amour http://www.webjam.com/arearugs makka http://www.webjam.com/omeprazol apollo http://www.webjam.com/vacuumcleaners bahloul http://www.webjam.com/annuitycalculator imagined http://www.webjam.com/bariatricsurgery throughput http://www.webjam.com/electricblankets overlooking http://jguru.com/guru/viewbio.jsp?EID=1534431 sbic
Post a Comment